Penulis: Nisya
14 Oktober 2026
Perkembangan teknologi digital membawa banyak perubahan dalam dunia kerja. Mulai dari mengirim email, mengolah data, hingga mengikuti rapat daring, hampir semuanya kini memanfaatkan teknologi. Namun, apakah kemajuan ini sudah bisa diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas netra atau tunanetra?
Bagi tunanetra, teknologi aksesibilitas memiliki peran penting dalam mendukung kemandirian dan produktivitas. Dengan bantuan pembaca layar (screen reader) seperti NVDA dan JAWS, tunanetra dapat menggunakan komputer, membaca dokumen, mengelola email, hingga mengolah data menggunakan Microsoft Excel. Teknologi pengubah teks menjadi suara dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga membantu mereka mengakses informasi dan mengembangkan keterampilan.
Meski begitu, teknologi yang semakin canggih belum otomatis membuat dunia kerja menjadi inklusif. Masih ada perusahaan yang ragu merekrut tunanetra karena kurang memahami kemampuan dan teknologi yang mereka gunakan. Padahal, dengan keterampilan yang sesuai dan sistem kerja yang aksesibel, tunanetra memiliki peluang untuk bekerja di berbagai bidang, mulai dari administrasi, layanan pelanggan, pendidikan, hingga teknologi informasi.
Peluang tersebut terlihat dalam pemberitaan detikFinance pada 11 Desember 2025. Artikel tersebut mengangkat pengalaman sejumlah perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas, termasuk tunanetra, pada posisi seperti programmer, operator, penguji perangkat lunak, dan layanan pelanggan digital. Contoh ini membuktikan bahwa kesempatan kerja dapat terbuka lebih luas ketika perusahaan bersedia memahami kemampuan karyawan dan menyesuaikan dukungan yang diperlukan.
Namun, tantangannya masih nyata. Dalam laporan ANTARA News pada 4 November 2025, seorang pelamar dengan low vision menceritakan kesulitannya mencari pekerjaan yang sesuai. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hambatan dalam dunia kerja bukan hanya berkaitan dengan keterampilan, tetapi juga dengan terbatasnya lowongan yang sesuai dan pemahaman perusahaan terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Selain itu, proses digitalisasi di perusahaan juga perlu memperhatikan aksesibilitas. Situs rekrutmen, aplikasi absensi, sistem administrasi, dan platform komunikasi harus dapat digunakan bersama teknologi bantu. Jika tombol tidak terbaca oleh pembaca layar atau aplikasi hanya bisa dioperasikan menggunakan mouse, tunanetra dapat mengalami kesulitan meskipun memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Karena itu, menyediakan komputer saja tidak cukup. Sistem kerja yang digunakan juga harus aksesibel.
Pentingnya membangun sistem ketenagakerjaan yang inklusif turut dibahas dalam Media Indonesia pada 11 Desember 2025. Dalam forum tersebut membahas 36 jenis pekerjaan dalam tujuh kategori, serta panduan perekrutan tenaga kerja tunanetra. Upaya ini penting untuk membantu perusahaan memahami potensi dan pilihan karier bagi penyandang disabilitas netra.
Di sisi lain, perkembangan AI membuka peluang baru untuk mendukung kemandirian tunanetra. Teknologi ini dapat membantu membaca teks dalam gambar, menjelaskan informasi visual, dan mendukung proses belajar. Dalam pemberitaan ITMI pada 19 Mei 2026, pemanfaatan AI dan pengembangan pelatihan kerja bagi tunanetra menjadi salah satu hal yang dibahas bersama Kementerian Ketenagakerjaan. Inisiatif tersebut menunjukkan pentingnya pelatihan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Meski demikian, AI tetap perlu digunakan secara bijak karena hasilnya harus diperiksa kembali dan aplikasi yang digunakan harus aksesibel.
Menurut saya, dunia kerja yang inklusif tidak cukup hanya membuka lowongan bagi penyandang disabilitas. Perusahaan juga perlu memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi, memastikan proses rekrutmen dapat diakses, serta menyediakan pelatihan dan lingkungan kerja yang mendukung. Dengan begitu, tunanetra memiliki kesempatan yang lebih adil untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan karier.
Semangat untuk memperluas akses terhadap keterampilan digital juga sejalan dengan perjalanan Sofyan Sukmana, S.Pd., pendiri Bimbingan Belajar Lentera Inklusif. Sebelum mendirikan Lentera Inklusif pada 18 Februari 2018, beliau telah mengajar privat komputer bicara dari rumah ke rumah sejak 2012 untuk membantu tunanetra mempelajari penggunaan komputer berbasis pembaca layar.
Pada 2013–2015, Sofyan Sukmana bekerja di PT PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) sebagai petugas call center, admin media sosial, dan petugas pemesanan tiket kapal. Selanjutnya, pada 2016–2017, beliau bekerja sebagai telemarketing officer di PT CIMB Niaga. Pengalaman mengajar dan bekerja tersebut menjadi bagian dari perjalanan beliau dalam mengembangkan pendidikan dan keterampilan digital bagi tunanetra.
Bimbel Lentera Inklusif hadir untuk mendukung masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, agar memiliki kesempatan belajar dan mengembangkan potensi. Melalui pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta, keterampilan seperti penggunaan komputer bicara dan teknologi digital dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi perkembangan zaman. Ke depan, keterampilan tersebut juga perlu didukung oleh kesempatan praktik, pengembangan kemampuan profesional, dan akses menuju dunia kerja.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk membuka peluang, bukan menciptakan hambatan baru. Tunanetra tidak membutuhkan belas kasihan untuk dapat berkontribusi. Mereka membutuhkan akses terhadap teknologi, kesempatan yang setara, dan lingkungan kerja yang menghargai kemampuan.
Yuk, dukung pendidikan yang inklusif dan akses teknologi yang dapat digunakan oleh semua orang. Bersama Bimbel Lentera Inklusif, mari terus belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi untuk masa depan yang lebih mandiri dan inklusif.
Informasi pendaftaran dan kerjasama dapat menghubungi:
Whatsapp:
Mitra Kami:
Donasi:
